Sosialisasi Empat Pilar MPR RI

 Foto Bersama IGI DIY dan Narasumber

Sabtu (08/08), Ikatan  Guru Indonesia Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (IGI DIY) bekerjasama dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) melaksanakan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Kegiatan ini berlangsung di Balai Desa Banguntapan, Bantul dan bekerjasama dengan SMK Kesehatan Amanah Husada selaku panitia lokal kegiatan.

Dalam kesempatan ini hadir dua anggota MPR RI Tim Enam, yaitu Bapak H. Abidin Fikri, S.H., M.H., (Fraksi PDI-P) dan Bapak KH. Aus Hidayat Nur (Fraksi PKS). Kegiatan ini dihadiri pula oleh Kepala Balai Dikmen Bantul, Kepala Desa Banguntapan, Muspika Kecamatan Banguntapan, guru-guru anggota IGI DIY dan tokoh pemuda dan masyarakat Banguntapan sekitar 100 orang dengan menggunakan protokol kesehatan Covid-19.

Berikut beberapa catatan yang penulis dapatkan selama acara.
Semoga bermanfaat.

Pentingnya Belajar Sejarah
KH. Aus Hidayat Nur dalam pemaparannya memulai dengan menyampaikan pentingnya belajar sejarah. Beliau mengulang pernyataan Ir Soekarno, JAS MERAH, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Dengan penyampaian khas seorang dai, KH Aus menceritakan sosok-sosok pahlawan lokal Yogyakarta yang menasional, diantaranya Pangeran Diponegoro dan Ki Hajar Dewantara. Tidak hanya itu, beliau juga menyampaikan sejarah tentang peran ulama dalam kemerdekaan Indonesia seperti H. Muthahar dan Jenderal Sudirman. Tidak berhenti disitu, Pahlawan Katholik WR Supratman juga diangkat sebagai bukti bahwa sejak awal Indonesia didirikan dengan persatuan dan keberagaman.

Pancasila sebagai dasar negara merupakan rumusan para founding father republik ini. Nama Pancasila memang dicetuskan oleh Ir Soekarno dalam masa persidangan 29 Mei - 1 Juni 1945, namun isi pancasila merupakan rumusan para anggota PPKI yang berproses sampai dengan Piagam Jakarta. Dan perlu diingat, ada kebesaran hati seorang Ki Bagus Hadikusumo yang merelakan 7 kata, kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya dihapus dan menjadi Sila 1 Ketuhanan Yang Maha Esa.

KH Aus juga menyinggung pentingnya menghargai keberagaman sesuai Bhineka Tunggal Ika. Beberapa contoh aktual yang terjadi terkait kontroversi RUU HIP (Haluan Ideologi Pancasila) juga sempat disinggung. Namun, secara umum berfokus pada penguatan toleransi dan persatuan nasional sebagai modal bersama.

Belajar Amandemen UUD NRI 1945
Materi kedua disampaikan oleh H. Abidin Fikri, S.H., M.H. dari Fraksi PDI-P. Dalam paparannya, Abidin berfokus pada sejarah UUD 1945 yang mengalami rangkaian amandemen dan penjelasannya. Prinsip adendum dalam amandemen UUD 1945 ini menarik dan urgensi amandemen itu sendiri.

Sejarah UUD 1945 disampaikan secara runtut dan dielaborasi dengan kondisi kekinian yang terjadi. Yang menarik dari pemaparan beliau adalah membuka dua hal yang ada dalam sejarah Indonesia yaitu phobia islam dan phobia komunisme. Menurut beliau, dua hal ini harus segera diakhiri agar bisa produktif dalam berbangsa dan bernegara tanpa saling curiga.

Pancasila untuk Milenial
H. Abidin dan KH Aus sependapat tentang perlunya sosialisasi empat pilar MPR RI ini kepada generasi milenial. Tentunya dengan disesuaikan pola dan modelnya. Jika dahulu pancasila diajarkan dalam bentuk doktrinasi P4, mungkin saatnya lebih kontekstual sesuai zaman. MPR menyadari masih banyak kekurangan, termasuk minimnya dana yang tersedia. Pendidikan memegang peranan penting internalisasi nilai-nilai empat pilar MPR RI ini dalam kehidupan melalui peserta didik.

Demikian catatan singkat kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Tulisan ini bersifat subjektif sesuai pemahaman penulis.

Selamat HUT RI ke-75, 17 Agustus 2020.

Merdeka!!!

Related

Inspirasi 6226713665630171332

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow us !

Blogger news

Trending

item